This awesome blogger theme comes under a Creative Commons license. They are free of charge to use as a theme for your blog and you can make changes to the templates to suit your needs.
RSS

TEORI KONTEKS STRUKTURAL DEMOKRASI KONSENSUS


               Salah satu cara sosiologi menjelaskan keteraturan dan memprediksi kehidupan social adalah dengan memandang perilaku manusia sebagai sesuatu yang dipelajari. Pendekatan ini atas alasan-alasan yang akan dijelaskan nanti, disebut dengan teori structural consensus.
            Proses kunci yang ditekankan teori ini disebut sosialisasi. Istilah ini merujuk kepada cara dimana manusia  mempelajari perilaku tertentu yang  diharapkan dari mereka diwujudkan dalam latar social. Dimana mereka menemukan diri mereka sendiri. Dari sudut pandang ini, masyarakat berbeda karena jenis-jenis perilaku yang di anggap sesuai ternyata berbeda-beda.
            Manusia Adalah masyarakat yang lain berpikir dan berperilaku berbeda karena aturan-aturan yang berlainan mengenai bagaimana harus berperilaku dan berpikir. Hal yang sama juga bagi kelompok yang berbeda dalam masyarakat yang sama. Tindakan dan ide dari suatu kelompok berbeda dari kelompok lain karena anggotanya disosialisasikan dalam aturan yang berbeda pula.
            Teori Konsensus berpendapat bahwa aturan kebudayaan suatu masyarakat, atau struktur, menentukan perilaku anggotanya, menyalurkan tindakan-tindakan mereka dengan cara-cara tertentu yang mungkin ber beda dari masyarakat yang lain. Mereka melakukan hal itu dengan cara yang mirip dengan kontruksi  fisik bangunan, yang menstrukturkan tindakan orang yang berada di dalamnya. Ambillah contoh perilaku siswa di sekolah. Ketika berada dalam lingkungan sekolah, mereka memiliki pola perilaku yang relative teratur. Mereka berjalan disepanjang koridor, naik dan turun  tangga, keluar dan masuk kelas melalui pintu tertentu. Mereka tidak keluar atau masuk kelas melalui jendela, memanjat tembok, dan sebagainya. Gerakan fisik mereka dibatasi oleh bangunan sekolah. Karena hal ini mempengaruhi semua siswa sama, perilaku mereka di dalam sekolah akan sama dan akan menunjukkan pola yang cukup jelas. 
            Dalam teori consensus, hal yang sama juga terjadi di dalam kehidupan social. Individu akan berperilaku sama dalam latar social yang sama karena mereka dibatasi oleh aturan-aturan kebudayaan yang sama. Meskipun struktur social ini tidak Nampak dalam hal struktur fisiknya, orang yang  disosialisasikan dalam aturan ini menemukan hal ini menentukan.
            Tingkatan dimana aturan-aturan kebudayaan ini bekerja dapat bervariasi. Aturan tertentu, hukum misalnya, bekerja pada tingkatan seluruh masyarakat dah menstrukturkan perilaku setiap orang  yang hidup di dalam masyarakat tersebut. Aturan-aturan yang lebih khusus, menstrukturkan orang-orang dalam latar yang lebih khusus pula. Misalnya, anak-anak dikelas diharapkan untuk berperilaku tertib, dan penuh perhatian. Contoh lain, ketika petugas polisi atau perawat, atau tentara sedang bertugas, aturan kebudayaan tertentu menstrukturkan kelakuan mereka sangat kaku. Selepas batas-batas ini tidak diterapkan, dan sebagai gantinya adalah, aturan-aturan dalam keluarga, sebagai ayah,ibu atau anak, atau sebagai suami atau istri.
            Hal di atas menunjukkan bagaimana teori struktur social dari aturan kebudayaan bekerja. Aturan ini tidak diterapkan kepada individu itu sendiri, melainkan kepada posisi dalam struktur social yang mereka tempati. Penjaga toko, polisi, pengatur lalu lintas, guru atau siswa dibatasi oleh ekspektasi kebudayaan yang diterapkan pada posisi  ini, tetapi hanya jika mereka menempati posisi tersebut. Dalam lingkungan yang lain, dalam lokasi yang lain dalam struktur social sebagai ayah atau ibu, pemain squash, pendukung tim sepak bola, jemaah gereja, dan seterusnya. Aturan-aturan yang lain bekerja.

            Para sosiolog menyebut posisi-posisi dalam struktur social sebagai peranan. Aturan yang menstrukturkan perilaku orang-orang yang menempati posisi disebu norma. Ada aturan kebudayaan tertentu yang tidak melekat pada peranan atau perangkat peranan tertentu. Disebut nilai, yang merupakan ringkasan dari cara-cara hidup yang sudah disepakati bersama, dan bertindak sebagai basis yang dari basis ini norma-norma tertentu berlaku. Jadi, misalnya ,”Pendidikan harus menjadi kunci keberhasilan” ; “Hubungan keluarga harus menjadi peranan paling penting untuk dilindungi” ; “ Kemandirian harus menjadi syarat bagi pencapaian individual.” Semua ini adalah nilai, dan nilai ini menijadi prinsip umum, yang menjadi sumber norma bagi mengarahkan perilaku disekolah, dirumah, dan ditempat  dan kerja.
            Menurut teori sosiologi ini, sosialisasi menjadi norma dan nilai menghasilkan kesepakatan, atau consensus, diantaranya orang-orang mengenai perilaku dan keyakinan yang sesuai, yang tanpa kedua hal ini masyarakat tidak dapat hidup. Itulah sebanya cara pandang ini disebut teori structural consensus.melalui sosialisasi, aturan-aturan kebudayaan menstrukturkan perilaku, menjamin consensus dalam hal perilku yang di harapkan,dan oleh karena itu menjamin keteraturan social.
            Jelas bahwa dalam masyarakat kompleks kadang-kadang menjamin ada norma-norma dan nilai-nilai yang brlawanan.sebagai contoh, ketika sebagian orang berpikir bahwa kurang baik apabila seorang ibu pergi bekerja, cukup banyak wanita yang ingin bekerja sebagai wujud keinginan akan kebebasan. Anak-anak sekolah mendorong teman-temannya untuk melanggar aturan sekolah, dan mengucilkan teman-teman yang tidak mau ikut.guru seringkali memandang gejala ini dengan cara. Tory Party Coference adalah pertemuan yang membahas sanksi hukuman terhadap orang-orang yang mengkritik polisi.
            Para teoritisi consensus menjelaskan perbedaan dalam perilaku dan sikap dalam konteks keberedaan pengaruh kebudaaan alternatif, karakteristik dari latar social. Contoh yang baik dalam hal ini adalah pendekatan teori ini terhadap ketidak setaraan pendidikan.
Ketidak setaraan pendidikan pendidikan: nalisis teori consensus
Penelitian pendidikan menunjukan,dengan kesimpulan eksplisit, bahwa pencapaian dalam pendidikan sangat kuat kaitannya dengan keanggotaan kelas social, gender, dan asal-usul etnik. Sebagai contoh, banyak sekali bukti yang menunjukan bahwa anak-anak dari kelas buruh pekerja yang memiliki kecerdasan yang sama dari kelas menengah memiliki pencapaian jauh lebih rendah dari pada anak-anak dari kelas menengah itu.
            Untuk mejelaskan hal ini, teori consensus menghimpun konsep-konsep dalam pendekatan mereka mengenai kehidupan social,norma, nilai, sosialisasi, dan kebudayaan. Dimulai dari asumsi dasar bahwa perilaku dan keyakinan di sebabkan oleh sosialisasi ked alam aturan-aturan khusus, eksplanasi mereka mengenai rendahnya pencapaian pendidkan anak-anak kelas pekerja mengidentifikasi:
·         Pengaruh kebudayaan yang mengendalikan anak-anak kelas menengah mencapai sukses akademik.
·         Pengaruh kebudayaan yang menjerumuskan anak-anak kelas pekerja ke dalam pencapaian yang sangat rendah
Penjelasannya biasanya sebagai berikut. Tingginya pencapaian anak-anak kelas menengah di dorong oleh sosialisasi kedalam norma dan nilai yang ideal bagi pencapaian pendidikan. Karena pengalaman pendidikan mereka sendiri. Orang tua kelas menengah sangat mengetahui bagaimana pendidikan berlangsung dan bagaimana mencapainya. Lebih lanjut, mereka nampaknya sangat ingin agar anak-anak mereka mencapai sukses dalam pendidikan. Jadi anak-anak ini tumbuh dalam latar social dimana pencapaian pendidikan bernilai tinggi dan mereka secara terus-menerus didorong dan dibantu untuk mencapai potensi akademik yang tinggi.
            Sebaliknya, latar belakang anak-anak buruh pekerja kerapkali kekurangan sosialisasiyang menguntungkan. Orang tua kelas pekerja nampaknya hanya memiliki pendidikan yang terbatas, mungkin tidak memadai. Meskipun mereka ingin sekali agar anak-anak mereka mencapai sukses pendidikan tetapi mereka nyaris tidak mengetahui bagaimana kalangan kelas menengah mencapai keberhasilan pendidikan itu. Kadang mereka melecehkan pencapaian pendidikan; misalnya, mereka tidak percaka bahwa mereka tidak tahu. Akibatnya, anak-anak mereka diajarkan untuk tidak menghargai pencapaian pendidikan, lebih senang bila anak-anak cepat bekerja,meninggalkan bangku sekolah untuk ikut terjun dalam lapangan kerja rendahan.
Teori consensus: kesimpulan
Ini adalah sebuah contoh mengenai penerapan teori consensus pada fakta kehidupan social. Dari sudut pandang teoritisi, berbagai pola kelakuan merupakan produk dari berbagai pola sosalisasi. Nampaknya cara pandang ini berlawanan dengan komitmen teori-teori ini terhadap gagasan bahwa keteraturan social dalam suatu masyarakat adalah hasil kesepakatan atau consensus di kalangan para anggotanya mengenai bagaimana berperilaku dan apa yang di pikirkan. Akan tetapi teoro consensus mengatakan bahwa meski terdapat perbedaan kebudayaan diantara kelompok-kelompok, akan meski terdapat ejumlah sub-budaya dalam suatu kesatuan besar kebudayaan, dalam semua masyarakat consensus itu selalu ada. Hal ini karena semua masyarakat memiliki nilai-nilai yang mantap mengenai suatu art penting yang tidak perlu di perdebatkan. Nilai-nilai ini mugkin disebut nilai-nilai inti atau nilai-nilai sentral, dan sosialisasi memantapkan setiap orang untuk tunduk pada nilai-nilai itu.
            Di inggris pada zaman Victoria, dua nilai sentral adalah komitmen kepada moralitas Kristen, dan kesetiaan kepada ratu dan kerajaan inggris. Kini,contoh-contoh nilai sentral dalam masyarakat kapitalis barat mungkin pentingnya pertumbuhan ekonomi, pentingnya institusi demokrasi, pentingnya penegakan hukum, dan pentingnya kebebasan setiap individu dalam hukum. Jadi, sesungguhya sesuatu yang diyakini sebagai “dasar dari cara hidup bangsa kita” pada masa tertentu biasanya merupakan nilai sentral dalam suatu masyarakat.
Bagi teori consensus nilai-nilai inti merupakan penyangga yang di bangun dan di pelihara melalui proses sosialisasi. Perilaku social dan struktur social di tentukan oleh kekuatan budaya eksternal. Kehidupan social di mungkinkan karena adanya struktur social yang menjadi tatanan budaya.

0 komentar:

Posting Komentar